Wednesday, 23 December 2009

Sejarah Kamera Canon II

Sambungan dari Sejarah Kamera Canon..

Sebelumnya kita udah bahas sejarah kamera Canon dari awal sampe sekitaran 2005. Di perkirakan itu menjadi akhir masa produksi kamera 35mm film. Sekarang saya coba ceritakan sejarah kamera mulai digital sampai sekarang.. Mulai..

7. Canon PowerShot, jajaran kamera kompak digital Canon (1986-Present)
Awal dari perkembangan kamera digital sebetulnya bukan dimulai oleh digital, melainkan berawal dari kamera analog magnetic dengan media penyimpanan pita magnetik atau floppy disk.
Tahun 1981, Sony meluncurkan kamera dengan sistem penyimpanan magnetik yang dinamakan "Mavica". Untuk mengantisipasi permintaan terhadap kamera jenis itu, maka pada bulan oktober 1981 Canon membentuk tim untuk mengembankan jenis kamera Magnetic Recording Color Still atau disebut Still Video (SV). Sebagai upaya pengembangan pada tahun 1984, Yomiuri Shimbun yang merupakan salah satu koran Jepang meminta kepada Canon untuk dapat meliput Olimpiade di Los Angeles. Dengan persiapan hanya 10 bulan untuk mempersiapan semuanya dari mulai persiapan pelaksana lapangan sampai persiapan semua peralatan, mereka siap untuk meliput. Suatu saat ketika meliput maraton pria, telepon mobile yang digunakan sebagai transmiter gagal beroperasi. Jadi mereka mencoba mengirimkannya lewat telepon umun. Dan ternyata berhasil.
Maka dengan hasil percobaan pada limpiade Los angeles tersebut Canon mulai untuk memproduksi kamera dengan sistem penyimpanan magnetik yang dinamakan RC-701. Pada bulan Juli 1986 RC-701 di launching oleh Canon. Meskipun sudah banyak perusahaan yang mengembangkan kamera jenis tersebut semenjak Mavica buatan Sony, namun Canon RC-701 sebagai kamera magnetic recording still pertama yang di dunia yang dijual secara umum.
Meskipun kamera magnetic recording still menggunakan sistem penyimpanan analog, namun cara kerja dan teknologinya merupakan tonggak awal pengembangan kamera digital hari ini.
Meskipun kelebihan yang dimiliki oleh kamera SV seperti tidak usah mencuci film sangat menggiurkan, namun kekurangannya yaitu harga jual yang sangat tinggi sangat mengalahkan kelebihan tersebut. Untuk type RC-701 dijual dengan harga 390.000 yen.
Hingga akhirnya pada bulan November 1988, Canon meluncurkan RC-250 atau disebut juga Q-PIC dengan harga dibawah seratus ribu yen. Q-PIC dilengkapi dengan built-in play back function sehingga pengguna bisa langsung melihat foto hasil jepretan mereka pada televisi mereka masing-masing. Dengan kelebihannya tersebut, Q-PIC sangat laku terjual di pasaran eropa dengan merk "ION".
Dengan pesatnya perkembangan teknologi komputer, hal ini sedikitnya memaksa para pelaku electronik untuk bisa mengikuti arus pendigitalan. Sehingga kamera SV dianggap tidak bisa lagi memenuhi keinginan pemakainya. Namun pada waktu itu sensor CCD (sensor penerima gambar) yang banyak digunakan dinilai tidak sanggup untuk menghasilkan gambar yang baik dan media penyimpanan Compact Flash (CF) yang sangat mahal pada waktu itu, membuat Canon sempat berfikir bahwa teknologi digital tidak akan diterima oleh masyarakat luas.
Setelah Canon mengeluarkan kamera SV kualitas tinggi RC-570 pada april 1992, Canon berhenti memproduksi kamera SV dan beralih pada kamera digital.
Pada tahun 1995 "EOS DCS" yang merupakan hasil kerjasama dengan Eastman Kodak diluncurkan. EOS DCS merupakan kamera DSLR pertama buatan Canon yang ditunjukan untuk pemakai Profesional. Lalu pada Juli 1996 Canon meliris kamera kompak digitak pertama yang ditunjukan untuk pengguna secara umum yang dinamakan PowerShot 600 dengan media penyimpanan CF. Dengan diluncurkannya PowerShot 600, ini menandakan bahwa Canon sudah memulai era digitalnya.
Perkembangan PowerShot sebagai jajaran kamera kompak digital buatan Canon sungguh sangat memanjakan para penggunanya. Dalam pengembangannya PowerShot berkembang menjadi beberapa tipe sesuai dengan peruntukan pasarnya.
8. Canon EOS Digotal SLR, jajaran DSLR Canon (1995-Present)
Awal 90-an merupakan saat dimana gelompang perkembangan dunia elektronik berpindah menuju digital atau sering disebut saat saat digitalisasi. Dan bahkan Canon pun dilanda gelombang transisi tersebut. Disaat Canon akan berpindah menjadi kamera digital, Canon merasa teknologi digital terlalu mahal untuk bisa di terima oleh masyarakat luas. Sebagai langkah awal menuju era digital, Canon bekerja sama dengan Eastman Kodak untuk membangun kamera Digital SLR (DSLR).
Proyek pertama mereka adalah EOS DSC 3 yang diluncurkan pada bulan juli 1995. Pengembangan EOS DCS 3 mengambil basis kamera EOS 1N dengan pemakaian sensor gambar CCD (Charge-Coupled Device) high density sebesar 1,3 megapiksel. Buffer memori berkecepatan tinggi yang besar 16 MB memungkinkan pemotretan terus menerus di 2,7 fps dalam 12-frame burst. Selain itu, dengan menggunakan hard disk kamera 260 MB, dapat menyimpan sekitar 189 frame. Ditunjukan untuk pemakai profesional karena harga jual yang sangat tinggi sekitar 2 juta yen dan EOS 1D dengan 4,5 MP dijual hanya 750000 yen. Sangat cocok untuk fotografer olah raga dan berita.



Tidak lama setelah EOS DSC 3 diluncurkan, pada bulan Desember 1995 EOS DSC 1 diluncurkan. Dengan ukuran gambar yang lebih besar, yaitu 6 MP dengan kecepatan 0.6 fps. EOS DSC dijual dengan harga 3,6 juta yen. Ditunjukan untuk fotografer yang membutuhkan kualitas gambar tinggi. Seperti fotografer iklan atau landscape.









Diluncurkan pada bulan Maret 1998. Pengembangan kamera DSLR hi-end Canon generasi ke 3 dengan tanpa embel2 Kodak pada body. Ditunjukan untuk menggantikan EOS DSC 3 dan dijual dengan harga yang sama.
Canon EOS D2000. Kamera yang masih termasuk jajaran pengembangan EOS 1N. Memakai sensor CCD 2MP dengan 3.5 fps.







Diluncurkan pada bulan desember 1998.
Canon EOS D6000. Dengan sensor CCD 6 MP dengan 1 fps. EOS D6000 merupakan pengganti EOS DSC 1 dengan tanpa tulisan Kodak pada body. Dan dijual dengan harga yang sama dengan Canon EOS DSC 1.








Setelah 4 produk DSLR Canon diluncurkan untuk kalangan profesional, Akhirnya pada bulan oktober 2000 Canon EOS D30 dilncurkan. EOS D30 merupakan kamera DSLR pertama Canon yang diluncurkan untuk semua kalangan dan juga disebut dengan pembuka era kamera DSLR standar.
EOS D30 merupakan kamera pertama Canon yang menggunakan sensor CMOS (Complementary metal–oxide–semiconductor). Dengan ukuran gambar sebesar 3.2 MP dan kecepatan 3 fps dijual dengan harga 385.000 yen.

Sebagai pengembangan dari Canon EOS D30, pada bulan maret 2002 Canon meluncurkan Canon EOS D60. Apa yang baru pada Canon EOs D60 adalah penambahan jumlah pixel menjadi 6 MP dan kecepatan 3 fps. Seperti halnya EOS D30, Canon EOS D60 pun masih menggunakan body berbahan plastik. Canon EOS D60 adalah awal dari pengembangan kamera DSLR Canon semi-profesional atau sering kita sebut dengan Canon DSLR dua digit.





Pada bulan desember 2001, Canon kembali meluncurkan kembali DSLR jajaran Top-of-the-line nya dengan meluncurkan Canon EOS 1D dan ini adalah kamera DSLR top-of-the-line pertama buatan Canon yang tanpa berkolaborasi dengan produsen lain. Dengan ukuran gambar 4 MP dan kecepatan 8 fps Canon EOS 1D dijual dengan harga 750.000 yen. Bentuk bangun EOS 1D mengambil desain EOS 1V sebagai acuan. Sehingga bila kita tidak melihat huruf D dan LCD yang ada di belakang, akan sedikit sulit membedakan kedua kamera tersebut. EOS 1D ditunjukan untuk para fotografer olahraga dan berita.


Pada november 2002, Canon kembali meluncurkan produk Top-of-the-line nya Canon EOS 1Ds. Penambahan huruf S pada EOS 1Ds sangat berpengaruh banyak. Menggunakan sensor CMOS dengan ukuran gambar 11 MP dan dengan kecepatan 3 fps, Canon EOS 1Ds ditunjukan untuk hampir semua jenis fotografer. Kelebihan lain dari sekedar huruf S yang ditambahkan adalah Canon EOS 1Ds adalah kamera Canon pertama dengan sensor Full 35mm Frame. Namun dengan besarnya ukuran gambar, Canon EOS 1Ds lebih ditunjukan untuk kalangan fotografer yang menginginkan kualitas gambar yang tinggi, seperti fotografer studio, iklan, atau landscape.
Pengembangan terhadap kamera Top-of-the-line Canon, dilakukan terus sampai sekarang. Penandaan untuk setiap pengembangan adalah dengan dibubuhkan Mark x (x adalah tanda pengembangan ke berapa). Beberapa jenis hasil pengembangan Canon EOS 1D adalah:
  • Canon EOS 1D (2001)
  • Canon EOS 1Ds (2002)
  • Canon EOS 1D Mark II (2004)
  • Canon EOS 1Ds Mark II (2004)
  • Canon EOS 1D Mark II N (2005)
  • Canon EOS 1D Mark III (2007)
  • Canon EOS 1Ds Mark III (2007)
  • Canon EOS 1D Mark IV (2009)

Pada bulan maret 2003, Canon kembali meluncurkan kamera untuk kelas dua digitnya. Ditunjukan sebagai pengganti Canon EOS D60, Canon EOS 10D diluncurkan dengan pengembangan yang sangat menggiurkan. Dengan tetap mengusung sensor APS-C CMOS 6 MP dan kecepatan 3 fps, Canon EOS 10D menggunakan body yang terbuat dari magnesium-alloy. Selain itu dilakukan penambahan pada titik fokus AF sebanyak 7 point. Canon EOS 10D tercatat sebagai kamera semi-pro pertama dari jajaran kamera Canon. Berikut beberapa pengembangan dari line-up kamera dua digit Canon.
  • Canon EOS 10D (2003) 6MP 3fps
  • Canon EOS 20D (2004) 8MP 5fps
  • Canon EOS 20Da (2005) 8MP 5fps (japan domestic market)
  • Canon EOS 30D (2006) 8MP 5fps
  • Canon EOS 40D (2007) 10MP 6.5fps
  • Canon EOS 50D (2008) 15MP 6.3fps

Mencoba untuk mengulang kesuksesan mereka pada Canon EOS Kiss 35mm film SLR, pada september 2003 Canon meliris Canon EOS Kiss digital (digital Rebel untuk pasar amerika dan tiga digit untuk pasar asia dan eropa). Canon EOS Kiss Digital / 300D ditunjukan untuk pemakaian pemula. Dengan sensor APS-C CMOS 6 MP dan kecepatan 2.5fps, Canon EOS Kiss mampu menyerap pasar dengan sangat baik. Berikut adalah beberapa pengembangan dari Canon EOS Kiss.


Canon EOS 350D /Kiss N/Rebel XT (maret 2005) 8MP 3fps 7 AF point.
Canon EOS 400D /Kiss X/ Rebel XTi (september 2006) 10MP 3fps 9 AF point.
Canon EOS 450D /Kiss X2/ Rebel XSi (maret 2008) 12MP 3.5fps 9 AF point.
Canon EOS 1000D /Kiss F/Rebel XS (juni 2008) 10MP 3fps 7 AF point.



Setingkat dibawah Canon EOS 1D, Canon meluncurkan kelas baru Full Frame yaitu Canon EOS 5D pada bulan oktober 2005.
Kamera ini ditunjukan untuk Advanced Amateurs yang mencari kamera dengan kemampuan sensor Full Frame namun dengan ukuran dan berat yang lebih kecil dari kamera profesional. Dengan ukuran gambar 12.8MP dan kecepatan 3fps dirasa cukup untuk memenuhi kebutuhan para fotografer profesional rookie.
Karena kesuksesan Canon EOS 50D dipasaran, pada november 2008 Canon kembali meliris Canon EOS 5D Mark II dengan peningkatan pada jumlah pixel menjadi 21 MP dan kecepatan 3.9 fps, diharapkan Canon EOS 5D Mark II dapat menuai kesuksesan yang sama dengan pendahulunya.



sekian dan terima kasih atas perhatiannya.
Semua materi diambil dari Canon.com
Silahkan komen..


Bandung 24 Dec 2009

Fajar Purwadi


No comments:

Post a Comment